Pages

Kamis, 30 Juli 2015

"mengenal kembali" Batu Fosil Kabupaten Lebak


Kawasan Kabupaten Lebak merupakan salah satu penghasil utama batu mulia kalimaya dan batu fosil yang sudah sangat mendunia. Dapat dipastikan para gemslover mengenal kalimaya yang disebut juga sebagai mother of gemstone. Namun bagaimana dengan batu fosil? Batu fosil nampaknya tidak menikmati manisnya booming batu mulia. meskipun sudah berekspansi ke Eropa, Amerika dan Asia. Tidak banyak gemslover yang mengenal dengan baik batu fosil. Bahkan tidak sedikit yang memandang sebelah mata dengan keberadaan batu fosil. Kondisi ini yang membuat Perbatangs mengirimkan tim ekspedisi kecil untuk mengenal batu fosil berikut olahannya. Menempuh perjalanan ke arah Kabupaten Lebak lebih kurang tiga jam perjalanan dari Tangerang Selatan, kami mengunjungi salah satu pengusaha batu fosil di selatan Kabupaten Lebak.Usaha yang diberi nama Cahaya Alam 17 dimiliki oleh H. Buchori. Usaha ini telah beliau mulai lebih dari 10 tahun lalu jauh sebelum booming batu mulia.
    Siang itu H. Buchori menyambut kami dengan ramah, karena suasana masih dalam bulan puasa begitu kami tiba, beliau langsung mengarahkan kita untuk melihat-lihat suasana workshop. seperti layaknya wartawan amatir, kami langsung mengambil beberapa foto bahan-bahan yang ada.


Kemudian kami melihat secara langsung proses pengerjaan batu fosil dan berbincang santai dengan beberapa karyawan dan menantu Pak Haji, Kang Asep yang dengan sangat detail menjawab semua yang kami tanyakan.Diperkirakan Cahaya Alam 17 memiliki lebih dari 100 ton bahan siap olah yang terdiri dari fosil kayu, black opal (sempur), batu andesit.(batu kali) dan beberapa batu mulia lainnya.
Yang mencengangkan beliau juga memiliki 7,5 ton batu pancawarna garut yang terdiri hanya dua bongkahan batu besar dengan lebar sekitar dua meter dan batu pancawarna tersebut telah dipoles mengkilat.


Yang membuat kami geleng-geleng kepala, dua bongkahan besar itu hanya teronggok diselimuti debu, seakan bukan batu yang berharga. Kami sampaikan kepada Pak Haji,
"Seandainya ada di Jakarta pasti sudah menjadi tempat tujuan wisata batu akik" 
Pak haji hanya tersenyum.
Kami juga diantar untuk melihat-lihat bagaimana bongkahan batu besar dipotong-potong seusai dengan sesuai dengan pesanan. UD. Cahaya Alam 17 sudah menggunakan mesin potong hidrolik dengan mata potong diameter 60cm. Beliau menerangkan bahwa saat ini beliau memiliki 2 mesin potong hidrolik dan 1 mesin potong model rel dorong.
Kami hampir-hampir tidak percaya, didaerah yang relatif terpencil, UD Cahaya Alam 17 telah memiliki beberapa alat potong yang sangat modern (dan tentu saja sangat mahal).demi untuk mencapai kualitas dan kecepatan kerja yang dibutuhkan oleh konsumen.
Kami sempat ditunjukkan beberapa produksi yang sedang dan telah dikerjakan. Ada bentuk kujang sepasang, asbak, coffee table, meja makan, meja taman, bahkan kami sempat ditunjukkan washtafel dan bathtube.
Semua disain dan hasil produksinya membuat kami merasa berbangga sekaligus malu. bagaimana mungkin kami yang datang dari kota namun tidak mengenal dengan baik hasil produksi batu fosil.
Sementara Pak Haji mengatakan hampir seluruh produk dari UD. Cahaya Alam 17 berorientasi ekspor.
"Mungkin masyarakat Indonesia perlu diperkenalkan lagi produk bangsa sendiri. Jangan sampai kita mengenal produk bangsa sendiri saat mengimpor dari negara lain," Ucap Pak Haji dengan serius.
Setelah melihat-lihat kami sempat membeli beberapa barang seperti meja tamu, coffe table, asbak dan beberapa kilogram bahan batu fosil.
Setelah berfoto ria sambil mengobrol santai, tak terasa waktu telah mendekati saat untuk berbuka puasa. kami berbuka puasa dengan jajanan khas Lebak. Sungguh suasana yang sangat nyaman.
Sehabis sholat maghrib, kami berpamitan dan membuat janji untuk segera berkunjung kembali.
Sungguh perjalanan singkat yang sangat mengena dihati.
Disaat beberapa gemslover masih berbacan ria atau sedang menimang batu dari aceh, padang dan daerah lain di Indonesia. Ada beberapa orang yang konsisten telah mengangkat nama Indonesia dengan mengekspor hasil olahannya ke mancanegara tanpa berkoar.
Terima kasih Pak Haji Buchori, Kang Asep dan UD. Cahaya Alam 17, kami telah dibukakan mata tentang sisi lain dunia perbatuan Indonesia.

Liputan by : Kok




2 komentar:

  1. top...jadi pengen ikut blusukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Pak Rozali, Terimakasih atas Topnya. Nanti kalau kita mau blusukan boleh ikutan pak

      Hapus